OJK Beyond Infinity Edisi 6 - Accelerating Digital Economy

Beyond Infinity

Responsible AI untuk Ekonomi Digital Indonesia: Peta Jalan Penguatan Resiliensi Bank dan Transparansi Risiko

Oleh Trioksa Siahaan (LPPI dan Universitas Negeri Jakarta) & Jerry Marmen M.S (UPN Veteran Jakarta)

Di sektor perbankan, perubahan ini terlihat dari semakin luasnya penggunaan kecerdasan artifisial (AI), mulai dari penilaian kredit, deteksi fraud, layanan nasabah melalui chatbot, sampai autentikasi biometrik. Perkembangan tersebut membuka peluang efisiensi dan perluasan akses layanan keuangan di bank. Namun, di sisi lain, hal tersebut juga menghadirkan jenis risiko baru yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan dengan kerangka risiko keuangan konvensional. E triwulan III 2025 mencapai 12,99 miliar transaksi, atau tumbuh 38,08 persen secara tahunan (Bank Indonesia, 2025). Pada saat yang sama, nilai ekonomi digital nasional diperkirakan telah mendekati 100 miliar dolar AS pada 2025 dan masih menjadi yang terbesar di Asia Tenggara (Google, Temasek, Bain & Company, 2025). konomi digital Indonesia berkembang sangat cepat, dan termasuk salah satu yang paling dinamis di dunia. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada

Penerapan AI dan perbankan digital tidak hanya membawa risiko baru, tetapi juga menawarkan peluang strategis bagi percepatan ekonomi digital Indonesia. Dalam praktik perbankan, AI dapat membantu mempercepat proses, memperluas layanan nasabah melalui chatbot dan analitik prediktif, menekan biaya layanan bagi segmen mikro dan UM K M, serta memperkuat deteksi fraud secara real time. Bagi masyarakat di wilayah terpencil, layanan digital juga dapat membuka akses keuangan yang sebelumnya sangat bergantung pada keberadaan kantor fisik bank. Berkaitan dengan hal tersebut, tata kelola AI sebaiknya tidak dipandang sebagai penghambat inovasi. Tapi, tata kelola yang baik menjadi prasyarat agar inovasi digital dapat berkembang secara aman, inklusif, dan tetap memperoleh kepercayaan publik. International Monetary F und (202 4 ) mencatat bahwa risiko kerugian sangat besar akibat insiden siber telah meningkat lebih dari empat kali lipat sejak 201 7 , dengan sektor keuangan sebagai salah satu sektor yang paling terpapar. Sejalan dengan itu, F inancial Stability Board (202 4 ) menegaskan bahwa adopsi AI dapat memperbesar kerentanan melalui ketergantungan pada pihak ketiga, risiko siber, risiko model, serta persoalan tata kelola data. Permasalahan yang muncul adalah kerangka kehati - hatian dan praktik pengungkapan risiko perbankan selama ini sebagian besar dirancang untuk risiko konvensional dibanding risiko terkait penggunaan AI. Akibatnya, ketahanan bank yang umumnya diukur melalui modal dan likuiditas menjadi kurang lengkap apabila kemampuan bank dalam mengelola dan mengungkapkan risiko digital tidak ikut diperhitungkan. Artikel ini bertujuan memetakan peluang dan risiko digital yang dihadapi perbankan Indonesia, menilai kecukupan kerangka regulasi yang berlaku, serta merumuskan peta jalan kebijakan untuk memperkuat resiliensi di industri keuangan. Pendekatan yang digunakan bersifat eksploratif dan aplikatif, dengan menggabungkan kajian literatur, laporan otoritas global, dan regulasi nasional. K ontribusi utama tulisan ini terletak pada upaya menghubungkan dua agenda yang sering dibahas secara terpisah, yaitu tata kelola risiko AI dan peningkatan kualitas pengungkapan risiko. K eduanya kemudian ditempatkan dalam satu kerangka kebijakan yang bertahap, agar inovasi digital tidak hanya cepat berkembang, tetapi juga tetap terkendali, akuntabel, dan dipercaya.

Fakta Digitalisasi Perbankan Nasional

INDIKATOR

NILAI

SUMBER

Volume transaksi pembayaran digital Transaksi perbankan digita l ( kanal mobile)

12,99 miliar transaksi ( triwulan III 2025), tumbuh 38,08 % ( yoy)

Bank Indonesia (2025)

Tumbuh 5 4 ,89 % ( yoy) hingga September 202 4

Bank Indonesia (2025)

Pengguna dan merchant QR IS

5 7 , 6 juta pengguna ; 4 0 juta merchant (Agustus 2025), 93 % UM K M Sekitar USD 90 miliar (202 4 ), menuju USD 100 miliar (2025) 122, 7 9 juta (Jan – Agu 202 4 ) ; 38 dugaan insiden sektor keuangan Sekitar 5 4% pekerjaan perbankan berpotensi terotomasi ; 93 % pelaku optimistis AI tingkatkan laba

Bank Indonesia (2025)

Nilai ekonomi digital (GMV)

Google, Temasek, Bain & Company (202 4 ; 2025) Badan Siber da n Sandi Negara (202 4 )

Serangan siber / anomali trafik

Adopsi AI sektor keuangan

Citigroup (202 4 )

06 Beyond Infinity Juni 2026

Made with FlippingBook Digital Proposal Creator