Beyond Infinity
Di sisi lain, asesmen terhadap resiliensi siber yang dilengkapi pengujian berbasis ancaman dapat memberi gambaran kesiapan bank secara berkala. Pemetaan konsentrasi dan ketergantungan pada penyedia jasa kritikal juga perlu diperkuat, bersama dengan pelaporan insiden yang lebih jelas dan konsisten. Langkah ini penting untuk mengantisipasi titik kegagalan tunggal yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan (Financial Stability Board, 2023). Rekomendasi Kebijakan Jangka Panjang Dalam jangka panjang, risiko AI sebaiknya diarahkan pada kategori risiko tersendiri atau dimensi risiko lintas sektor di dalam kerangka manajemen risiko prudensial dan dilengkapi dengan kewajiban pengungkapan yang baku. Pendekatan ini menyelaraskan praktik Indonesia dengan arah global yang menjadikan tata kelola AI bersifat mengikat dan terdokumentasi (European Union, 2024). Sejalan dengan itu, kapasitas pengawasan berbasis AI (SupTech) perlu dibangun agar otoritas dapat memantau adopsi AI dan kerentanannya secara dini serta menutup kesenjangan data (Financial Stability Board, 2025).
Peta Jalan Kebijakan Tata Kelola Risiko AI
Horizon Agenda
Instrumen
Output yang Diharapkan
Kebijakan
Jangka pendek
Standar minimum tata kelola AI
Inventaris AI, validasi model, pengungkapan penggunaan AI
Bank mengetahui model AI yang digunakan dan risikonya Bank mampu mengukur dampak gangguan digital R isiko AI masuk dalam arsitektur pengawasan prudensial
Jangka menengah
Pengujian resiliensi siber
Cyber stress test, threat-led testing, pemetaan pihak ketiga P O J K/ SE O J K khusus risiko AI, SupTech, pengungkapan risiko digital terstandar
Jangka panjang
K erangka risiko AI yang mengikat
Sumber : diolah penulis dengan merujuk N ational Institute of Standards and Technology (2023), Basel C ommittee on Banking Supervision (202 1 ), dan Financial Stability Board (2025).
10
Beyond Infinity Juni 2026
Made with FlippingBook Digital Proposal Creator